Unik, Siswa SMA Ini Buat Riset Dan Ungkap Perbedaan Antara Pipis Anak Kelas IPA Dengan Kelas IPS

Posted on 2019-03-07 14:25



Dua orang siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Purworejo menjadi finalis kompetisi penulisan ilmiah untuk kalangan milenial dengan tajuk Indonesia Fun Science Award. Melalui karya ilmiah nyeleneh dengan obyek penelitian urine ini, mereka berhak melaju ke babak final untuk memperebutkan posisi jawara.

Adalah Ahmad Nur Muzakki (16) dan Mastri Imammusadin (17) siswa SMA N 1 Purworejo yang telah berhasil menjadi finalis di ajang Indonesia Fun Science Award setelah bersaing dengan seluruh siswa SMA sederajat di Indonesia. Karya ilmiah dengan judul 'Kajian Urine Siswa IPA dan IPS di SMA N 1 Purworejo' ini berhasil membawa mereka melaju ke babak selanjutnya yang akan dilaksanakan di Tangerang pada 9 Maret 2019 mendatang.

Indonesia Fun Science Award sendiri merupakan kompetisi penelitian ilmiah pertama di Indonesia yang mensyaratkan pesertanya untuk mengangkat tema-tema penelitian yang unik, lucu, menyegarkan dan mungkin dianggap tidak bermutu namun bertujuan untuk memecahkan masalah dan bisa bermanfaat.

Ditemui di sekolahnya, kedua siswa kelas 11 jurusan IPA dan IPS itu mengaku memilih mengambil judul tersebut lantaran dianggap unik dan lucu. Namun demikian, kajian yang dilaksanakan bukan sekedar guyonan semata karena benar-benar melalui penelitian ilmiah dan hasilnya pun bisa dirasakan.

Loading...

"Ya karena unik aja, biar nggak terlalu serius. Kebanyakan orang kan menganggap penelitian itu bikin sepaneng. Setelah berembug, kebetulan dapat idenya yang itu (kajian urine), akhirnya kami bikin karya ilmiah ini. Bentuknya soft file terus kami kirim via email," kata Ahmad Nur Muzakki.

Dalam penelitian yang berlangsung selama dua hari itu, sedikitnya diambil masing-masing 10 siswa dari jurusan IPA dan 10 siswa dari jurusan IPS sebagai sampel. Berdasarkan hasil observasi, terdapat perbedaan antara siswa IPA dan IPS. Karena itu kadar pH urine dan glukosa siswa IPA lebih tinggi karena pelajaran yang lebih rumit.

"Dalam kesehariannya mereka memiliki perbedaan dalam kebiasaan atau aktivitas. Perbedaan aktivitas ini kemungkinan dapat berpengaruh terhadap aktivitas fisiologis mereka dan juga pada urine yang dihasilkan," lanjutnya.

Penelitian dilakukan dengan metode uji kimia yang meliputi pengukuran pH (tingkat keasaman) urine, pengamatan mikroskopik, uji glukosa dan uji protein dalam urine. Berdasarkan data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pH dan glukosa urine siswa IPA lebih tinggi dari siswa IPS.

"Kondisi ini berdasarkan wawancara dan analisis data uji kimia serta mikroskopis, didapat bahwa kondisi tersebut dimungkinkan karena adanya gangguan pencernaan yang bisa disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur atau gangguan psikologis (stres)," jelasnya.

Sementara itu, Mastri Imammusadin juga menambhakan apa yang telah dijelaskan oleh Muzakki. Menurutnya, salah satu persepsi menganggap bahwa siswa IPA lebih rentan terkena stres atau tekanan daripada siswa IPS. Pernyataan ini berpedoman pada siswa IPA yang memiiki mata pelajaran yang terkesan rumit dan sulit.

"Sedangkan siswa IPS mempunyai pelajaran yang terkesan mudah. Karena itu kadar pH urine dan glukosa siswa IPA lebih tinggi karena pelajaran yang lebih rumit," katanya.

Dengan penelitian tersebut, diharapkan dapat menemukan fakta yang logis dan ilmiah untuk memberikan gambaran nyata bagaimana perbedaan pola keseharian siswa IPA dan IPS berpengaruh terhadap kandungan urine. Selain itu, karya ilmiah tersebut juga diharapkan bisa bermanfaat sebagai referensi penulisan ilmiah di kalangan pelajar Indonesia.

Sebagai guru pembimbing, Trisni Atmawati mengaku bangga dengan prestasi yang diukir anak didiknya itu. Ia berharap agar kedua siswanya bisa mengalahkan karya ilmiah lain dan menjadi jawara.

"Mereka sangat berpotensi, siswa yang cerdas. Ide ini juga munculnya dari mereka, saya hanya membimbing secara teknis. Semoga nanti bisa menang jadi juara 1," harapnya.

Kompetisi yang diselenggarakan oleh Swiss German University ini dibuka sejak 1 Desember 2018 hingga 31 Januari 2019. Pesertanya pun berasal dari siswa SMA sederajat seluruh Indonesia. Sang pemenang nantinya akan mendapatkan hadiah liburan gratis keliling Jerman.

Topik-topik penelitian yang diusung para siswa dalam kompetisi ini memang kocak dan tidak biasa. Misalnya analisis jari tangan yang paling sering dipakai untuk ngupil, candu aroma kotoran pada tepian kuku ibu jari kaki, hingga hubungan antara tingkat kemiringan kepala terhadap eksistensi diri siswa SMA.




Loading...




Cerita Unik Lainnya

Posted on 2016-05-12 14:02