Ingat Kasus 'Bedak Berdarah' di Malang? Begini Kabar Nadia yang Bunuh Temannya Sendiri

Posted on 2018-05-24 07:51



Sebuah kejadian perkelahian antar teman berakhir tragis sempat membuat heboh warga Malang di penghujung 2017 lalu. Kasus pembunuhan 'Bedak Berdarah' itu terjadi di Pantai Ngliyep, Donomulyo, Malang.

Diketahui, Nadia telah membunuh Fena (16), Jumat (29/12/2017), karena masalah bedak Rp125 ribu dan asmara. Fena meninggal akibat luka sabetan pisau di lehernya.

Menurut ayah korban, putrinya cekcok karena bedak pesanannya tak kunjung datang. Sementara itu, dari pengakuan pelaku, korban marah lantaran produknya jelek.

Mereka kemudian pergi menuju TKP dan terjadi perkelahian di antara mereka. Korban sempat melawan, lalu tersangka menyabet korban menggunakan pisau dapur.

Loading...

Sabetan pertama mengenai tangan korban. Sedangkan sabetan kedua mengenai leher korban.

Kasus pembunuhan 'Bedak Berdarah' di Pantai Ngliyep, Donomulyo, Malang memasuki babak baru.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, akhirnya memvonis terdakwa penganiayaan hingga tewas, Nadia Figa Madona (19) warga Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, dengan vonis 14 tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan hukuman penjara.

Vonis itu dijatuhkan Majelis Hakim setelah dalam persidangan dengan mendengarkan keterangan para saksi, dianggap memberatkan terdakwa dan terbukti terdakwa menganiaya hingga korban anak usia 16 tahun meninggal dunia.

Ketua Majelis Hakim dalam d Persidangan di Kantor PN Kepanjen Malang, Wiwin Arodawanti SH menjelaskan, dari keterangan saksi kalau kasus tersebut berawal dari persoalan kosmetik bedak seharga Rp 125 ribu dan asmara terbukti dalam persidangan. Dimana dari kasus tersebut berujung pada penganiayaan terhadap korban anak hingga meninggal dunia setelah terluka oleh senjata tajam. "Terdakwa menganiaya terhadap korban hingga meninggal dunia, itu yang memberatkan terdakwa," kata Wiwin Arodawanti dalam persidangan, Rabu (23/5/2018).

Sementara hal yang meringankan menurut Wiwin Arodawanti, terdakwa masih muda dan belum pernah terlibat perkara hukum. Dengan vonis 14 tahun hukuman penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan penjara itu, terpaksa dijatuhkan karena terdakwa terbukti bersalah di persidangan.

"Terdakwa terbukti bersalah sesuai Pasal 80 ayat (3) jo Pasal 76 C UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak," tegas Wiwin Arodawanti dalam persidangan.

Sementara itu, JPU Kejari Kabupaten Malang, Ari Kuswadi SH atas vonis terhadap terdakwa oleh Majelis Hakum meminta waktu pikir-pikir. "Kami pikir-pikir dulu majelis atas vonis terhadap terdakwa," tutur Ari Kuswadi.

Dimata Ari Kuswadi, vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim lebih ringan setahun dari tuntutan JPU terhadap terdakwa dengan hukuman penjara selama 15 tahun. Ini dikarenakan perbuatan terdakwa dinilai cukup sadis dalam menganiaya korban yang masih anak-anak tersebut hingga tewas. "Dalam seminggu ini kami akan tanggapi keputusan vonis Majelis Hakim itu," ucapnya.

Terpisah, Penasehat Hukum terdakwa, Abdul Halim SH juga pikir-pikir atas vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim kepada terdakwa. Ini dikarenakan tindakan yang dilakukan oleh terdakwa lebih sebagai saling mempertahankan hidup. Dimana apabila pisau itu ada di tangan korban maka terdakwa yang bisa tewas.

Memang, diakui Abdul Halim, dalam perkara penganiayaan hingga tewas yang dilkukan terdakwa berawal dari persoalan kosmetik bedak dan asmara. Dimana dalam perkelahian cukup lama tersebut akhirnya dimenangkan terdakwa. Hingga terjadilah penganiayaan dialami kirban hingga meninggal dunia. "Kami menilai vonis Majelis Hakim yang dijatuhkan kepada terdakwa terlalu memberatkan," pungkas Abdul Halim.

Nadia usai pengadilan

Berita Sebelumnya 

Satreskrim Polres Malang menetapkan satu orang tersangka dalam kasus pembunuhan yang menewaskan gadis 16 tahun berinisial VS, warga Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jumat (29/12/2017).

Tiba di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Malang sekira pukul 22.45 WIB malam, pelaku pembunuhan bernama Nadia Fegi Madona (18), warga Dusun Umbulsari, Desa Kalisari, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang. “Nadia ini teman bermain, tapi tidak terlalu akrab dengan korban,” ungkap Kasatreskrim Polres Malang AKP Azi Pratas Guspitu, Jumat (29/12/2017) tengah malam pada beritajatim.com.


Nadia

Nadia nampak tegar. Terdapat luka goresan pisau di bagian jari sebelah kiri. Menurut Azi, luka di jari kiri pelaku karena sempat menangkis pisau yang digenggam korban.

“Yang menodongkan pisau pertama kali justru korban. Pisau ditodongkan ke arah pelaku. Lalu ditangkis pelaku, pisau jatuh sejauh 10 meter dan terjadi pertengkaran. Pisau yang jatuh lalu diambil pelaku dan disabetkan ke leher korban. Pelaku tidak ingat berapa kali melakukan sabetan pisau. Yang diingat pelaku menyabet di bagian leher korban,” urai Azi.

Kronologis kejadian hingga menewaskan VS, menurut keterangan pelaku pada Polisi, diawali dari transaksi membeli bedak secara online antara pelaku dan korban. Menurut Azi, korban belum membayar bedak sebesar Rp 110 ribu.

Namun keterangan ayah kandung VS, Iswanto, anaknya sudah membayar sehari sebelum kejadian. Sehingga, sudah tidak ada permasalahan atau dianggap selesai.

“Pagi hari sebelum kejadian pelaku ke rumah korban menagih pembayaran bedak Rp110 ribu. Lalu oleh korban, pelaku diajak ke Pantai Ngliyep menemui pacarnya,” bebernya.

Azi melanjutkan, sesampainya di kawasan Pantai Ngliyep, korban mengajak pelaku ke areal hutan. Alasannya, korban ingin buang air kecil. Setelah di semak-semak, korban mengambil jaket dari dalam jok motor milik pelaku. Saat mengambil jaket dan memakainya, ternyata ada pisau yang terjatuh.

Polisi belum bisa memastikan siapa yang membawa pisau tersebut. Apakah pisau itu milik korban atau sudah disiapkan pelaku, Pihaknya belum bisa memastikan.

Selain pelaku tidak mengakui membawa pisau, menurut pengakuan tersangka, pisau itu akan digunakan korban mencari bunga. Barang bukti berupa pisau itu juga belum berhasil ditemukan hingga tengah malam proses pencarian akibat cuaca hujan dan gelap.

“Setelah itu pelaku jalan ke semak-semak lebih dulu, korban berjalan di belakangnya. Pada saat itulah, korban sempat menodongkan pisau ke arah pelaku,” terang Azi.

Ketika pisau ditodongkan, lanjut Azi, korban sempat berkata jika pelaku harus meninggalkan pacarnya atau putus dengan pacarnya.

“Rupanya korban ini naksir pacar dari pelaku. Sementara pelaku, menduga korban dan pacarnya ada hubungan. Sehingga pelaku dendam dan emosi. Korban juga menuduh jika bedak yang dibelinya kadaluarsa atau busuk,” tegas Azi.

Pelaku kemudian menangkis pisau yang ditodongkan korban ke arahnya. Pisau terlempar sejauh 10 meter. Korban dan pelaku terlibat perkelahian hebat hingga berujung pada kematian VS dengan luka sayatan di leher, perut dan tangan.

“Motif dari kejadian ini si pelaku sakit hati oleh korban, karena pelaku dijelek-jelekkan korban bahwa bedak yang dijual kadaluarsa. Terus pelaku sakit hati dan juga pelaku mencurigai kepada pacarnya dengan korban ada hubungan,” tutur Azi.

Fena

Ia menambahkan, setelah menghabisi korban, pelaku sempat duduk dibawa pohon pisang. Lalu meninggalkan korban dan berdiam di rumah pacar pelaku. “Kami terus mendalami kasus ini. Penyidikan masih berlangsung. Pelaku kita jerat dengan Pasal 80 ayat 3 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman 15 tahun penjara,” Azi mengakhiri.

Nadia Sosok yang Santun

Kasus pembunuhan sadis yang dilakukan Nadia Fegi Madona, 18, warga Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, terhadap Fenna Selinda Rismawati, 16, warga Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo, Jumat (29/12), menyisakan banyak cerita.

Salah satunya berasal dari keluarga Nadia yang sempat tidak percaya gadis tersebut melakukan pembunuhan. ”Selama ini cucu saya sangat santun, bahkan sepengetahuan kami, dia tidak pernah memiliki masalah,” kata Sukari, kakek pelaku.

Menurut Sukari, selama ini Nadia tinggal bersamanya. Saat ditemui kemarin (30/12), warga Dusun Umbulsari, Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, ini tampak masih shock dan tidak percaya atas perbuatan cucunya tersebut.

Sukari menambahkan, sebelum mendapat kabar jika Nadia membunuh korban, cucunya sempat membantu mencuci piring. Seusai pekerjaannya selesai, sekitar pukul 08.00, pelaku sempat izin untuk keluar rumah.

Dia mengaku jika tidak mengerti ke mana cucunya itu pergi. Bahkan, Sukari tidak tahu jika sepeda motor Beat miliknya dibawa Nadia. ”Selama tiga bulan belakangan, Nadia jarang keluar rumah. Tapi, waktu pamit dia hanya ngomong kalau mau berlibur merayakan pergantian tahun,” imbuhnya.

Rekonstruksi

Ketika ditanya soal pisau yang digunakan Nadia untuk menghabisi korbannya, Sukari menuturkan jika tidak terlalu paham. Maklum saja, selama ini dia memang bekerja sebagai buruh tebu.

Jadi, waktu panen dia sering menggunakan pisau untuk memangkas tebu. Kemungkinan pisau yang berada di jok sepeda motor adalah benda yang sehari-hari dia gunakan saat bekerja. ”Saya tidak tahu pisaunya seperti apa,” papar Sukari.

Menurut dia, pada Jumat (29/12) sekitar pukul 12.00, polisi mendatangi kediaman Sukari dan menanyakan keberadaan Nadia. Kebetulan saat itu yang bersangkutan sedang tidak ada di rumah sehingga dia tidak mengetahui keberadaan cucunya.

”Saya mendapat informasi dari polisi jika Nadia membunuh orang. Seketika itu istri saya Tukirah langsung pingsan setelah mendapat kabar tersebut,” kata Sukari sambil mengusap kedua matanya.

Saat ini pihak keluarga hanya bisa pasrah mengetahui Nadia sedang berhadapan dengan hukum. Tidak hanya keluarga yang terkejut mendapat berita tersebut, salah satu tetangga pelaku Sukidi menyatakan, jika selama ini pelaku dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tidak banyak berulah. Maka dari itu, banyak tetangga yang tidak percaya jika Nadia tega membunuh Fenna dengan cara yang keji. ”Saya tidak menyangka jika pembunuhan sadis itu dilakukan Nadia,” terangnya.

Rekonstruksi 

Polres Malang menggelar rekontruksi pembunuhan di Dusun Ngilyep, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, dengan tersangka Nadia Fegi Madona (18) warga Desa Kaliasri, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang.

Dalam rekontruksi pembunuhan tersebut, ada 23 adegan yang diperagakan oleh pelaku, untuk menjelaskan kronologi pembunuhan yang menewaskan Fena Selinda Rahmawati (16) warga Dusun Mentaraman, Desa Mentaraman, Kecamatan Donomulyo.

Pelaku Dengan lancar menceritakan dan memperagakan bagaimana awal mula kejadian tragis yang terjadi di hutan kawasan Pantai Ngliyep, pada Jumat (29/12/2017) silam.

Menariknya pisau yang digunakan pelaku untuk menewaskan korban ternyata diambil dari rumah korban oleh korban sendiri, yang kemudian ditaruh di jok sepeda motor Honda Beat N 6823 IW milik pelaku.

Menurut pelaku, pisau tersebut rencananya hendak digunakan untuk mencari buah markisa. Dalam rekontruksi tersebut juga memperlihatkan, ternyata sebelum pelaku menghabisi nyawa korban, korban terlebih dahulu mengajak cekcok dan mengancam korban dengan pisau. Bahkan digambarkan korban sempat menaiki tubuh pelaku dan mencekiknya.

Rekonstruksi

Menurut Nadia dirinya pun akhirnya melawan tindakan korban yang akhirnya mendorong korban dengan kedua kakinya sehinga korban terjatuh. Setelah itu pelaku sempat bersandar di pohon pisang, kemudian korban hendak melempar batu ke pelaku.

Merasa terancam, pelaku akhirnya mengambil pisau yang sempat terlepas dan terlempar. Dengan dua kali sabetan, yang mengenai tangan dan leher korban, Fena pun akhirnya meregang nyawa.

Kasat Reskrim Polres Malang, AKP. Adrian Wimbadra, menyampaikan bahwa dalam rekontruksi ini pelaku membunuh korban karena upaya membela diri.

“Awalnya mereka memang sudah ada perselisihan paham, yang akhirnya berlanjut pada cekcok dan perkelahian, sampai akhirnya pelaku menghilangkan nyawa korban,” jelas Adrian.

Menurut Adrian, kejadian ini ada upaya provokasi dari korban terhadap pelaku, sehinga pelaku akhirnya bertindak seperti itu.

“Dari hasil rekontruksi, pelaku memang membela diri,” ujar Adrian.

Terlepas dari motif pelaku menghabisi korban, Polisi menjerat Nadia Fegi Madona, dengan Pasal 338 KUHP yang ancaman pidananya paling lama 18 tahun kurungan penjara.

Pengakuan Nadia 

Tersangka pembunuh Vena Selinda Rismawati, 16 di hutan Pantai Ngliyep, Kabupaten Malang, Nadia Fegi Madona, 18, mengelak pembunuhan itu telah direncanakan. Meski ia sebelumnya bersengketa dengan korban tetapi ia tak memiliki niat membunuh.

''Sama sekali tidak ada niat saya membunuh. Sungguh, semuanya berjalan berjalan begitu saja dan saya sangat menyesal,'' katanya saat dalam pemeriksaan polisi.

Nadia, ditangkap sesaat ditemukan korban dalam kondisi jelang ajal menjemputnya, Jumat siang (29/12/2017). Vena sempat menyebutkan jika pelakunya adalah Nadia. Nyawa Vena tak terselamatakan lantaran luka cukup parah di sekujur tubuhnya.

Diceritakan, Jumat (29/12/2017) pagi sikitar pukul 09.00, ia datang ke rumah korban di Desa Mentaraman, karena ingin menagih uang bedak. Korban, sebelumnya membeli bedak lewat online atas nama pelaku.

Kasus bedak ini juga sehari sebelumnya menjadikan keduanya bersengketa. Namun dilerai keluarga mereka.

Saat sampai di rumah korban, Nadia sempat ditemui orangtua korban. Setelah bertemu korban, Nadia mengaku diajak korban ke Pantai Ngliyep. Keperluannya menemui Rian, pacar korban. Saat itu, korban menitipkan jaket. Nadia pun memasukkan jaket itu ke sepeda motor Hoda Beat miliknya.

Saat membuka jok motornya itu, ia mengetahui ada pisau dan jas hujan warna pink. Setelah menaruh jaket korban, Nadia menutup jok motornya dan berboncengan ke arah Pantai Ngliyep.

Sesampai di pintu masuk tempat wisata itu, Nadia minta foto dulu. Maksudnya foto itu segera diupload agar pacarnya mengetahui jika dia sedang mengantar korban ke Ngliyep. Tapi, lagi-lagi kesempatan itu menjadi bahan olok-olok korban kepada Nadia.

''Saya dibuli. Katanya (korban) saya tidak pantas berfoto-foto. Saya orang miskin,'' tutur Nadia.

Setelah berfoto, korban beralih mengambil-alih kemudi motor. Nadia menjadi dibonceng. Setelah beberapa meter, korban menghentikan motornya dengan alasan pingin kencing. Saat itu korban juga mengaku akan mencari bunga.

Bersamaan itu, korban membuka jok, mengambil jaket dan pisau. Korban lalu berjalan di depan dan Nadia di belakang, karena mereka berjalan di jalan setapak.

Selang beberapa meter berjalan, korban meminta Nadia jalan di depan. Mereka pun melanjutkan mencari bunga.

Tapi kata Nadia, mendadak korban mengancamnya dengan menempelkan pisau yang dibawanya ke lehernya. ''Saat itu ia (korban) menyebutkan agar saya tidak hubungan dengan Rian,'' terang Nadia.

Merasa terancam, Nadia secara spontan merebut pisau dan kemudian membuangnya. Mereka pun kemudian terlibat pergumulan. Korban yang kalah, sempat ditinggalkan Nadia. Tapi, kata Nadia, korban malah balik menyerangnya dengan mengumpat dan bahkan melempari batu.

Nadia dan Fega

Pergumulan kembali terjadi. Nadia giliran yang terjepit. Mengetahui korban mengambil batu yang akan dihantamkan ke dirinya, ia mengambil pisau. Pisau itupun diayunkan dan dihujamkan beberapa kali ke tubuh korban.

''Saya tidak tahu berapa kali. Tapi setelah itu saya lari,'' tuturnya.

Nadia yang sempat terluka tangannya, membuang pisau dan lari ke rumah Fitri, temannya. setelah itu ia lari ke rumah Rian, pacarnya. Di tempat inilah ia dirawat lukanya dan sekaligus dijemput petugas.


Loading...




Cerita Unik Lainnya

Posted on 2016-04-24 05:50