Banting Anaknya Sendiri Yang Balita Hingga Tewas, Rekan Kerja Ungkap Perilaku Aneh Supardi Seminggu Sebelumnya

Posted on 2018-11-28 21:36



Sungguh miris yang dilakukan oleh pria bernama Supardi Supriyatman (36). ia tega membanting putrinya sendiri hingga tewas, seorang bocah perempuan bernama Putri Aisyah (1,5). Uniknya, sebelum kejadian tragis ini, beberapa hari sebelumnya korban dimanja-manja pelaku, digendong dan disayang, namun akhirnya terjadi hal mengerikan.

Supardi membanting Putri hingga tewas di kediamannya di Jalan Usaha Baru, Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (24/11/2018) pukul 08.30 WIB.

Cerita tentang perilaku Supardi pun datang dari berbagai pihak, yang selama ini pernah berinteraksi dengan lelaki yang bekerja sebagai tenaga satuan pengamanan (Satpam) itu. Satu di antara tempat kerja Supardi adalah di Kompleks Karet Permata Khatulistiwa Pontianak, Jalan Karet, Pontianak Barat, Kota Pontianak.

Rekan Supardi bernama Hendra (32) menuturkan perilaku pelaku. Malam sebelum kejadian, Hendra berganti shift dengan Supardi. Hendra mengatakan dirinya masuk jaga pukul 12.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB.

Loading...

Kemudian, dari pukul 18.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB, penjagaan di Kompleks Karet Permata Khatulistiwa Pontianak, dilanjutkan Supardi. Setelah bekerja di Kompleks Karet Permata Khatulistiwa Pontianak, rupanya Supardi tidak pulang ke rumah. Ia kembali bekerja di sebuah rumah makan. Jam kerjanya dari pukul 22.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB. Hendra menuturkan rekan kerjanya itu adalah pekerja keras yang terlalu ambisius.

"Dia itu kerja di sini juga. Di rumah makan juga. Jadi driver Grab juga. Dia bekerja sekitar 4 bulan," tutur Hendra.

Ia mengatakan di Kompleks Karet Permata Khatulistiwa Pontianak, ada empat orang security.

"Di sini ada empat orang security yang bekerja. Gaji semua sama di sini Rp 1,2 juta," tambahnya

Ditanya tentang adakah hal aneh sebelum Supardi melakukan perbuatannya terhadap Putri Aisyah, Hendra kemudian teringat seminggu sebelumnya. Seminggu sebelum kejadian Hendra sudah menyadari perubahan perilaku Supardi.

"Waktu ganti shift, saya lihat dia lebih banyak ngelamun daripada kerja,” katanya.

“Sebelum kejadian banyak perubahan. Tidak memperdulikan orang lewat. Banyak termenungnya daripada kerja," ujar Hendra.

Hendra mengatakan dia mulai melamun seminggu sebelum kejadian. Kadang-kadang Supardi tertawa sendiri. Dan dia pernah berdiri di bawah pohon, di depan gang ini.

"Melamun di situ," ujarnya sambil menunjuk ke sebatang pohon ditepi jalan.

"Pokonya sudah banyak kelainanlah. Seperti bukan diri dia. Seperti dikendalikan orang lain," ujar Hendra.

Bahkan sebulan sebelum kejadian, Hendra mengatakan Supardi sempat minta diruqyah.

"Supardi pernah cerita. Dia mau buang barang di badan dia. Mau minta ruqyah. Belum sempat diruqyah sudah kejadian seperti itu," kenang Hendra.

Selama bekerja Hendra mengatakan, kalau Supardi tidak pernah nongkrong atau ngopi. Dia bawa bekal sendiri dan selalu diam di Pos Satpam.

"Warga sini mengenal dia baik. Taat sembahyang. Ndak punya musuh. Ndak pernah ngomong kasar atau nada tinggi. Aalagi sama istri dan anak," ucapnya.

Hendra masih tak percaya Supardi membunuh darah dagingnya sendiri.

"Terkejut juga saya kok sampai segitunya. Warga di sekitar juga terkejut, tidak menyangka," ujarnya.

Hendra tahu benar kalau rekan kerjanya itu adalah sosok ayah yang penyayang.

"Padahal dia ini orang penyayang. Jangankan anaknya, kucing aja disayang," tegas Hendra.

Secara kebetulan Hendra adalah sepupu dari istri Supardi yakni Hamisah (38). Hendra memastikan dia bercerita jujur tanpa pengaruh dari siapapun. Soal Supardi yang bekerja keras siang malam demi anak istrinya, ternyata pernah diceritakan juga kepada tetangganya, Susilawati (48).

"Kalau tidak kaya, gila saya ini," kata Susilawati menirukan ucapan Supardi.

Terus Lantunkan Solawat

Supardi Supriyatman (36) terus melantunkan solawat saat menjalani pemeriksaan di Mapolresta Pontianak, Senin (26/11/2018). Dengan tangan terborgol, mulut Supardi yang telah tega membanting darah dagingnya sendiri, Putri Aisyah (1,5) hingga tewas ini, tak berhenti bergerak. Kebiasaan Supardi melantunkan solawat ini, juga diakui oleh istrinya, Hamisha (38). Termasuk sesaat sebelum Supardi mendadak hilang kendali dan membanting anaknya di dapur.

"Waktu di ayunan. Memang dia setengah memaksa anaknya untuk tidur. Memang anak ini belum mau tidur. Saya mau ambil dia, mau saya susui. Dia bilang jangan,” tutur Hamisah, Sabtu (24/11/2018).

Hamisha mengatakan, Putri Aisyah tak mau tidur dulu karena ingin mendengar dirinya bernyanyi.

“Dia mau dengar saya menyanyi,” ujar Hamisha yang ditemui rumahnya di Jalan Usaha Baru, Parit Langgar, Sungai Rengas, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Sabtu (24/11/2018) pagi.

Namun di saat bersamaan, suaminya juga hendak menidurkan Putri Aisyah sambil bernyanyi solawat.

“ Waktu itu suami saya nyanyinya lagu solawat. Saya biarkan dulu,” tutur Hamisha lagi.

Ketika dinyanyikan solawat oleh ayahnya, rupanya Putri Aisyah bukan malah diam. Namun, bocah tak berdosa itu malah menangis kian keras. Saat anaknya menangis itulah, dia memutuskan untuk mengambil Putri Aisyah dari suaminya.

"Tapi anak itu makin menangis. Terus saya paksa ambil. Kemudian saya bawa ke kamar tidur," katanya.

Hamisah memperagakan bagaimana dirinya merampas Putri dari tangan suaminya.

"Saya susukan di situ sambil baring. Lalu suami saya masuk lagi ke kamar mengambil anak itu, kemudian dibawa keluar,” ucapnya.

Saat itu, sebenarnya Hamisah ingin merebut kembali Putri dari suaminya.

“Saya mau rampas anak itu tidak bisa, karena saya lihat kondisi suami saya udah beda keliatannya," kenangnya.

“Kemudian dibawanya ke dapur. Saya kejar ke dapur. Saya tarik anak saya. Tidak mau dilepaskan sama dia. Anak itu sudah nagis-nangis, anak itu dipeluknya keras dan tidak mau dilepaskan,” tutur Hamisah.

Tak lama berselang, suaminya membanting Putri Aisyah hingga tak bernyawa.




Loading...




Cerita Unik Lainnya